PENGAKUAN (1)

Pictures Of Fingers (11)

Tujuhbelas Desember dua ribu limabelas.
Aku dikejutkan oleh sebuah pesan singkat yang mecungul di telepon genggamku: “kalo aku sayang sama kamu gimana?
Dyarrr….

Pengakuan itu datang dari seorang perempuan muda. Salah satu perempuan paling cantik yang pernah ada dalam hidupku. Bukan, kami bukan kekasih atau mantan kekasih sekalipun. Kami adalah teman yang tumbuh bersama semasa kecil dan remaja. Kami tak pernah benar-benar dekat. Seiring waktu, hanya beberapa kali saja bertukar cerita, keluh-kesah, impian, dan lebih sering guyonan. Ya sewajarnya teman.

Ia sudah punya kekasih.

Untunglah, setelah kutanya maksudnya, ia segera menjelaskan ada apa di balik pesan singkatnya itu. Sehingga aku tidka buru-buru GR berprasangka yang iya-iya hehehe….
“Sejak zaman SMP aku sudah sering liatin kamu. Aku juga pernah sayang sama kamu dari zaman aku sama A** (sensor, nama seseorang, Red.), bahkan sampai sekarang walaupun aku sudah sama A** (sensor lagi, nama seseorang, Red. Eh, baru sadar bahwa nama kedua cowok itu mirip hihihi….)….”
Aku menahan nafas.
…. tapi aku ga tau kenapa aku ga pernah punya pikiran utk jadian, pengen jadi pacarmu. Bahkan malah seneng banget pas denger kamu deket sama M** (sensor juga) dll. Ini jujur, ga ada rasa gimana2. Jadi aku cuma pengen bilang aku sayang kamu. Sayang untuk apapun dan sebagai apapun. Ora oleh baper hahaha… sekian.
Aku menahan tawa.

Sial. Untuk hal-hal kayak gini, aku itu clueless. Bingung. Culun. Polos. Lugu. Ndak ngerti kudu gimana. hahaha…. Membaca perasaan perempuan lebih sulit daripada membaca strategi Timnas Spanyol di Piala Dunia.

Ya sudahlah, ndak usah baper, sesuai pesan temanku tadi. Aku melihatnya positif saja. Bahwa benar kata Anthony de Mello, bahwa cinta itu membebaskan, bukan memiliki. Ternyata ada betulan cinta yg kayak gitu. Ya cinta temenku tadi ke aku (nek iki GR hhihih). Sejujurnya, pengakuannya melegakanku. Paling tidak menyelesaikan penasaran yang kadang masih muncul. Sial. Tapi sejak pengakuannya itu, semua reda, lega, bahagia. Kami jadi lebih nyaman saling bertutur. Kami masih akan tumbuh sebagai kakak-adik yang kurang akrab namun dekat. Piye kuwi!? Embuh.

Aku berdoa saja, ia tumbuh dan menemukan rumah bagi jiwanya. Bukan. “Cinta itu dipilih, bukan memilih“. Itu kalimat yg sering ia kutip dari seorang novelis, Dewi Lestari. Kalimat yg sampai sekarang tak kupahami.

Lihatlah, dalam hidup ini ada sekian banyak perasaan yg lama tersumbat. Entah itu benci, rindu, penasaran, ingin tahu, sayang, cinta, marah, malu, kecewa, dsb. Ketika sumbatan itu dilepaskan, perasaan itu diungkapkan, maka segala sesuatu menjadi tak lagi sama. Dari situ aku belajar untuk berani mengaku. Berani mengungkapkan pikiran dan perasaan. Agar tidak menyumbat dan jadi mampat. PAda akhirnya, apa yang kita ungkapkan akan membawa pada kondisi yang “tidak apa-apa”. Baik-baik saja ternyata. Lebih banyak manfaat daripada mudaratnya. hehehe…. Jiwa kita memang butuh ruang untuk ekspresi! Tentu dengan cara yang bijak.

Sebijak kawanku yang menutup percakapan kami: “Semoga kita tidak berjodoh ya 🙂 Karena aku pengen sayang kamu dengan apa adanya dan tanpa ada alasan apapun 🙂

Terima kasih, D.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s